Wednesday, 26 January 2011

Pada sekitar akhir abad ke 19, kerajinan seni sulam tangan menjadi bagian dari budaya di Uzbekistan. Dapat dikatakan hampir setiap wanita Uzbek mengerti bagaimana membuat sulaman Suzana ini. Suzanne pada tradisinya dikenal sebagai bingkisan pernikahan yang diperuntukkan sebagai pajangan dinding pada pasangan yang baru menikah.

Kata Suzanne sendiri berasal dari bahasa Tajik yang artinya ‘jarum’, dalam pengertian lokalnya Suzanna diartikan sebagai wall-embroidery. Rata-rata Suzanna paling besar dengan ukuran panjang 2-3 meter dengan lebar 2 meter persegi. Biasanya sulaman Suzanne ini mengikuti model yang sudah di gambar di atas kain polos yang disebur ‘Kalam’, dan model sulaman ini hampir tidak meninggalkan sedikitpun ruang kosong pada dasar kain sehingga hampir motif sulaman ini penuh dan rumit.Sementara itu kombinasi warna biasanya mereka menggunakan warna dari bahan-bahan alami, seperti misalnya warna merah mereka ambil dari perasan paprika merah atau dari buah redberry.

Boleh dikatakan bahwa perkembangan seni Suzanne menjadi bagian dari budaya nasional Uzbekistan, masing-masing daerah mempunyai keistimewaan dan aliran tersendiri dalam seni menyulam Suzanne ini. Dan pada kisaran abad ke 19, Nurata, Bukhara, Samarkand, Shakhrisabz, Tashkent dan Fergana menjadi pusat artistic Suzanne.

Mengujungi sebuah museum seni yang terletak agak di pinggiran kota Tashkent beberapa hari yang lalu menggugah niat saya untuk sekedar menuliskannya disini. Museum ini dibangun pada akhir abad ke 19 dan dikenal dengan Suzana Moseum, karena kebanyakan yang di tampilkan disini adalah berbagai motif Sozana yang dari masing-masing provinsi mempunyai motif dan aliran yang berbeda, meskipun selain Sozana ada beberapa pernak-pernik peninggalan peradaban abad ke 18-19 masih tersimpan disini, dimana pada masa itu Tashkent masih dibawah penguasa Emir Muslim yang berkuasa di hampir seluruh kawasan Asia Tengah sebelum kemudian di kuasai oleh kekuasan Tzar of Russia dan di tahun 1917, paska revolusi Bolshevic, wilayah ini resmi menjadi bagian dari Uni Soviet sampai tumbangnya rezim Soviet yang kemudian memunculkan lima negara baru pecahan Soviet di kawasan Asia Tengah. (Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Kyrgyzstan)

Kembali ke Suzana, sulaman hiasan dinding ini lebarnya bisa bermacam-macam, biasanya dipecah menjadi beberapa bagian persegi yang ukurannya lebih kecil, untuk memudahkan proses penyulaman, sampai kemudian di rangkai menjadi satuan yang lebar. Dari keterangan pemandu kami pada waktu itu, tradisi Sozana ini umumnya diperuntukkan sebagai hadiah dari pengantin perempuan pada hari pernikahannya, biasanya anak perempuan diajarkan menyulam Sozana-nya sejak umur enam tahun, karena diharapkan Suzana tersebut dapat terselesaikan tepat di hari pernikahannya, sebagai hiasan dinding di rumahnya. Ada satu Suzana yang menggelitik pandangan kami pada waktu itu, karena Sozana tersebut tampak ada cacatnya atau dengan kata lain, ada beberapa bagian yang belum terselesaikan sulamannya. Menurut tradisi setempat, jika sulaman Suzana tidak terselesaikan sementara si perempuan sudah keburu di pinang orang, atau pengantin perempuan sudah benar-benar tidak ada waktu lagi untuk menyelesaikan Suzana-nya hingga hari pernikahannya, itu artinya pesta pernikahannya belum lengkap dan nantinya perjalanan pernikahan pasangan tersebut akan mengalami banyak cobaan. Biasanya para lelaki lebih memilih perempuan yang sulaman Suzana-nya lebih rumit motifnya, karena hal ini menandakan bahwa perempuan tersebut mempunyai kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Motif dari Sozana itu sendiri biasanya di gambarkan oleh penggambar motif, panjang lebarnya bisa bermacam-macam, dan semakin besar dan rumit motif Sozana tersebut biasanya perempuan tersebut berasal dari keluarga terpandang atau dari keluarga berada.

unfinished Suzanne

Pada prakteknya, tradisini Suzana masih dilestarikan oleh orang setempat meskipun dengan praktek yang lebih simple, kadang satu Suzana diselesaikan dengan cara beramai-ramai sehingga seorang perempuan tidak harus menyelesaikan sendiri, atau pada saat ini dengan cara memesan kepada jasa penyulam Suzana atau bisa jadi dengan membeli yang sudah ready-made yang banyak di jual di toko-toko kerajinan tangan. Dan saat ini, seni kerajinan Suzanna tetap masih dilestarikan, baik itu secara tradisi maupun secara industri. Dan bisa ditebak, apapun yang handmade menjadikan harganya melambung dibandingan dengan Suzanna yang di produksi dengan menggunakan mesin.

2 comments:

Anonymous said...

pagi hari yang cerah dan sangat menyenangkan, semoga sepertii itulah yang anda rasakan juga, mari kita kobarkan semangat untuk berkreasi di setiap jengkal blog. kami new bie pingin mendapat link satu aja dari sini, harus puasa berapa hari atau apa syarat untuk dikabulkannnya..blog anda asangat mantab sekali.

Muhammad Wiyono said...

pagi hari yang cerah dan sangat menyenangkan, semoga sepertii itulah yang anda rasakan juga, mari kita kobarkan semangat untuk berkreasi di setiap jengkal blog. kami new bie pingin mendapat link satu aja dari sini, harus puasa berapa hari atau apa syarat untuk dikabulkannnya..blog anda asangat mantab sekali.

There was an error in this gadget
 

© 2009Milestones | by TNB