Saturday, 19 January 2008

Mengingatkan saya sebaris kalimat dari sebuah novel filsafat Dunia Sofie “A singgle dot out of nothing”, satu titik bermula dari ketiadaan, begitu kata mendiang aristoteles kalo tidak salah. Dari tidak ada saya dilahirkan tak jauh dari kota Jepara. pemandangan centra industri kerajian furniture kerap kita dapati ditiap-tiap ruas jalan di kota ini, kota yang kabarnya merupakan penyumbang devisa terbesar untuk provisnsi Jawa Tengah karena industri furniturnya telah menyeruak masuk ke kancah perdagangan internasional, jadi tidak mengherankan jika laju perindustrian terlihat dinamis, meskipun pergolakan ekonomi juga berimbas pada industri tersebut. Masa kecilku di desa kelahiran hanya berjalan hingga aku meluluskan sekolah dasarku di sebuah madrasah ibtidaiyah tidak jauh dari rumah orang tuaku.

Pesantren Putri Pondok Modern Gontor menjadi pilihan sekolah lanjutan setingkat madrasah stanawiyah dan aliyah, sebuah perjalanan proses pendewasaan yang terkadang berfluktuasi, sampai pada akhirnya aku dapat menamatkan sekolah di pesantren tersebut. Lepas pengabdian wajib, seiring dengan resmi dibukanya Pondok Gontor Putri 2, aku meninggalkan pesantren tersebut. Masih menerka-nerka kemana hendak kujalankan langkah, sampai kemudian-meski tidak lama-aku coba masuk pesantren tahfidz terkemuka di kawasan Kudus kota kretek, sambil menunggu rencana melanjutkan ke perguruan tinggi.

Rupanya kepakan sayap takdir membawa saya ke Pakistan, tahun 99 bersamaan dengan kudeta militer Musharraf aku menjejakkan kaki di bumi Bhutto, sebuah negara yang dari awal kemunculannya dipenuhi dengan konflik, mungkin dapat dibaca lengkapnya disalah satu tulisan yang saya tulis di blog ini, di sebuah kajian tentang dilema politik Islam. Pendidikan s1 saya fokuskan pada jurusan akidah filsafat di International Islamic University Islamabad. Hingga selesai strata ini akhirnya aku putuskan untuk menikah, dengan –waktu itu calon bapak anak-anak kami- Mas Niam (Muhammad Niam Sutaman) seorang kandidat doktoral dibidang hukum lingkungan di universitas yang sama juga.

Pendidikan S2 saya ambil lebih condong karena tuntutan pragmatis ketimbang idealisme, kali ini sebuah tantang cross fakultas dimana saya memutuskan untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional dan Ilmu Politik, dari tuntutan pragamatis ini ternyata saya mendapatkan kecondongan yang dalam dibidang ini, hanya terkadang kegiatan domestik lebih banyak menguras konsentrasi untuk mengsilkan sebuah riset tentang asia tengah dan asia selatan, meskipun hingga saat ini cita-cita tersebut masih ada dibenak saya.

Paska S2, its a taugh day, a days when i give up everything for my child, manata hati dan menata sikap, a mother of two and three for my husband J, a decision that it tooks me several time to accept, sebuah keniscayaan dari sebuah komitmen, janji pernikahan yang pernah kami sepakati. Yang saya percaya hanya keikhlasan yang dapat mengingatkan saya pada komitmen tersebut.

Kehadiran anak kami yang pertama –Hilda Farha Kumala- adalah sebuah blessing terutama untuk pembelajaran saya sebagai seorang ibu, sekaligus sebagai seorang mahasiswi-kala itu- i never put my daughter as an excuse for not being punctual for giving my projects, bagi saya kehadirannya adalah penantian yang terkabulkan, bukan sebagai kambing hitam. I know that God has blessing us our daughter so that through her i learn, we both learn something, that become a parent is not a simple job. But that means you give all your time and all of your affections for your kids.

Hidup di negara patriarki tidaklah mudah, terutama bagi orang asing, kondisi keamanan yang terkadang membahayakan komunitas orang asing, membuat saya cenderung lebih memilih untuk memberdayakan diri menggunakan fasilitas yang ada. Tentang fenomena sosial, budaya, politik, hukum, and thanks for the blessing of internet, masa kehamilan pertama dapat saya lewati dengan bantuan fasilitas newsletter dari babycenter.com, segudang isu tentang wanita yang tidak semuanya diketahui oleh kebanyakan kaum perempuan, termasuk proses kelahiran dengan bantuan epidural yang di indonesia sendiri sangat minim sosialisasinya. “The net” seperti film yang dibintangi Sandra Bullock telah banyak membantu diri dalam segala hal. And i’m proud to be a mother of my two cute daughter...and here i am..

Being a mother is sometimes uncounted, but while i couldnt leave my child in their early age, i decide to give up everything for them...just for their upbringing..

Terimakasih sudah membaca profile saya...


3 comments:

Akenshi said...

Halo :)

Terima kasih sudah berkunjung ke link saya ya :)
Salam kenal dan tetap semanagat ^_^

Anonymous said...

a very interesting story ... I am impressed with you .. you are lucky to have such a great experience ...
saya minta ijin link dengan blog saya di http://aladintirta.blogspot.com saya juga minta ijin minta beberapa gambar pemandangan yang anda punya di fb anda untuk sy pasang di blog saya your pictures are very nice.. thanks before...

Kamilia said...

@Akenshi: salam kenal juga
@Yon: sama-sama, silahkan jika mau ambil gambar-gambar di FB saya, abandon blog sebetulnya karena jarang update, makasih sudah berkunjung

There was an error in this gadget
 

© 2009Milestones | by TNB