Sunday, 20 March 2011

Image taken from Uzbek Cooking
Assalom, Navruz! 

Sebuah karya puisi terkenal oleh seorang filsuf dan penyair terkemuka Umar Khayam dituliskan: ‘Bahwa dia yang merayakan dan memberikan kegembiraan pada hari Navruz akan menghabiskan hidupnya dengan riang sampai pada perayaan Navruz berikutnya’.
            
Untuk semua bangsa yang hidup dalam empat musim, musim semi diibaratkan sebagai waktu kebangkitan alam dan kehidupan, sebuah  masa rejuvenasi dan harapan perdamaian antar manusia dengan sesamanya, juga sebentuk masa waktuya penyemaian bibit tanaman, baik pada ladang-ladang maupun pekarangan sebagai penopang ketahanan pangan, pun sebagai masa peningkatan pada ternak, yang kesemuanya itu untuk memperkuat tali kasih sayang dan sebentuk gambaran hubungan mesra antara manusia dengan alam. Hal itulah yang melatarbelankangi perayaan Navrus pada kebanyakan wilayah Asia Tengah, Iraq, Turki dan sebagian Cina Persia.

            Dalam literatur Persia, kata Navruz diartikan sebagai ‘hari baru’, atau ‘hari pertama pada setiap tahun baru’. Navruz dirayakan setiap tanggal 21 Maret, ketika posisi matahari berada diatas garis katulistiwa, atau di sebut dengan istilah equinox vernal, sehingga menyebabkan seimbangnya lama waktu siang dan malam. Masa ini di lambangkan sebagai simbol awal tahun baru pada sebagian wilayah seperti di Iran, Afghanistan, wilayah Kurdi Iraq dan Turki, juga pada sebagian besar wilayah Asia Tengah.

            Uzbekistan menjadikan hari Navruz sebagai hari libur nasional, meskipun penetapan hari Navruz ditetapkan dengan kalender masehi, yaitu di peringati setiap tanggal 21 Maret. Banyak kalangan yang menyebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan perayaan umat Muslim, akan tetapi menurut sejarahnya, peringatan Navruz itu sendiri sudah ada jauh sebelum Islam, yaitu sekitar di abad ke 5 sebelum masehi, dimana bangsa Iran merupakan bangsa yang paling akrab dengan perayaan ini. Kurang lebih sekitar 5000 tahun perayaan Navruz di rayakan di kawasan bekas Persia dimana ajaran Zoroastrian melekat pada tradisi bangsa tersebut.

Perayaan Navruz di Uzbekistan dapat di sebutkan pada ‘Kronicle Dinasty Tan’ sekitar abad ke 7, dimana pada awalnya perayaan ini hanya sebuah festival yang secara spontan di rayakan oleh rakyat pada umumnya, yang hingga saat ini masih di lestarikan sebagai bagian dari budaya leluhur.

Hingga pada masanya, terdapat fluktuasi pada pembolehan perayaan tersebut oleh pemerintah yang berkuasa saat itu, seperti misalnya pada masa kekuasaan Islam dikawasan ini, tradisi Navruz di katakan sebagai tradisi yang berseberangan dengan ajaran Islam, sehingga secara resmi tidak ada peringatan Navruz, tetapi meskipun demikian tradisi tetap terjaga dalam masyarakat pada umumnya.

Kemudian Bolsheviks merupakan penguasa pada saat itu yang juga melarang tradisi perayaan Navruz, menganggap sebagai tradisi kuno yang tidak perlu di lestarikan. Akan tetapi, masyarakat pada umumnya tetap membuat hidangan sumalaq, sebuah hidangan tradisional yang diartikan sebagai simbol kehidupan, kemakmuran dan kesehatan.

Baru setelah Uzbekistan resmi menyatakan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1991, maka pemerintahan baru ini memberikan angin baru bagi pelestarian budaya yang sudah turun-temurun di percayai sebagai lambang kehidupan, sehingga peringatan Navruz di jadikan sebagai hari libur nasional yang di iringi dengan perayaan dalam berbagai festival.

Melintasi kawasan perumahan penduduk Tashkent, ada geliat kebersamaan daam menyambut tradisi Navruz ini, pekarangan-pekarangan rumah di hidupkan kembali untuk menyambut musim persemaian, dimana kelompok-kelompok kecil dari keluarga tersebut saling bergotong royong untuk menyiapkan lahan persemaian benih dari berbagai tanaman yang akan di tanam, baik di pekarangan maupun di kebun-kebun, para tetangga saling bergiliran membantu proses ini, yang di harapkan ritual ini dapat terselesaikan sebelum puncak Navruz itu di peringati tepat di tgl 21 Maret.

Disamping itu berbagai hidangan tradisional khas untuk menyambut Navruz juga di persiapkan dalam peringatan ini. Dalam tradisi masyarakat Uzbekistan, biasanya mereka menghidangkan berbagai menu tradisional seperti Pilov (nasi lengkap dengan daging, yang diantara pelengkapnya adaah irisan daging kuda ternak), Shurva (sup sayuran), daging kambing atau daging sapi rebus, Kuk-samsa (seperti pastel diisi dengan daun bawang) dan Nishalda (hidangan penutup yang terbuat dari putih telur dan gula).

Sementara puncak dari peringatan Navruz itu sendiri adalah sumalaq, dimana hidangan ini merupakan hidangan ritual dalam peringatan Navruz. Sumalaq hanya dapat di cicipi sekali dalam setahun. Sumalaq yang terbuat dari tunas gandum muda (kecambah gandum) ini di percayai sebagai simbol kehidupan abadi. Sementara proses pembuatan Sumalaq hingga siap dihidangkan itu memakan waktu kurang lebih 24 jam hingga adonan tersebut mengental dan siap dihidangkan. Karena Sumalaq dipercayai sebagai hidangan yang mengandung unsur ritual bagi orang Uzbeks, maka proses pembuatan ini harus di lakukan oleh orang yang mempunyai perilaku yang mulia, biasanya di masak oleh para perempuan-perempuan yang sudah berumur selama kurang lebih semalaman, di iringi dengan nyanyian, tari-tarian dan puji-pujian sebagai perlambang doa dan harapan dalam menyambut musim semi.

Banyak kepercayaan mengenai legenda Sumalaq itu sendiri, diantaranya yang paling populer di kalangan masyarakat Uzbek, adalah legenda seorang janda yang bernama Fatima, dimana dia mempunyai dua orang anak dan sangat fakir sehingga tidak dapat memberi makan anak-anaknya yang selalu menangis karena kelaparan. Pada suatu sore Fatima sudah merasa putus asa sehingga dia hanya bisa memasak makanan dari sedikit tepung, gandum dan air, yang dia minta dari tetangganya, dia juga meletakkan beberapa batu-batu kecil di dalamnya. Melihat si ibu sibuk memasak, mereka kemudian merasa tenang karena tidak lama lagi mereka akan mencicipi masakan ibunya. Tak lama kemudian anak-anak tersebut tertidur menanti masakan sang ibu, pun Fatima juga tertidur dan ketika di pagi harinya dia terbangun dan terbelalak begitu mendapati 30 melaikat mengitari belana tempat dia memasak tadi, dia melihat para malaikat tersebut mencicipi masakannya. Tak lama kemudian di membangunkan anak-anaknya dan dalam kegembiraan dia menuju belana tadi dan mendapatinya penuh dengan bubur yang paling lezat yang tidak pernah dia cicipi sebelumnya. Sejak saat itu, Fatima dan anak-anaknya tidak pernah merasa lapar, sementara masakan tadi di beri nama Sumalak artinya 30 malaikat.

Dalam prakteknya, dasar belanga besar tempat memasak Sumalak juga di beri batu-batu kecil untuk menghindari bubur tadi supaya tidak gosong dalam proses pemasakannya, dan dalam kepercayaannya jika seseorang di beri hidangan Sumalak dan mendapati dalam mangkuknya terdapat batu kecil, maka hal itu di percayai bahwa orang tersebut akan mendapat kebahagiaan dan keberuntungan hingga Navruz yang akan datang.

Sebagaimana tradisi yang terjaga secara turun temurun, Navruz adalah hari dimana orang saling bertemu, saling berkunjung, berjabat tangan dan saling memaafkan, kebanyakan pada hari ini mereka saling memberikan hadiah terutama pada mereka yang lebih tua, dan biasanya perayaan ini berakhir hingga satu bulan penuh, begitu juga Sumalak hanya akan di dapati selama musim Navruz.

            Pasdravlayu Navroz…

Note: di tuliskan dari berbagai sumber antara lain dari  Uzbek Cuisine Orexca Sairam Tour

0 comments:

There was an error in this gadget
 

© 2009Milestones | by TNB