Tuesday, 23 March 2010

'If you can divert the public opinion, there is something you get what money could not buy' sejenak mungkin terdengar sederhana, tapi tentu bisa dicermati secara seksama dalam fenomena kekinian, baik itu yang bersangkutan dengan politik dalam negeri atau dalam pola hubungan internasional antar negara.

Di era globalisasi ini, tentu dapat di pahami adanya pergeseran trend di percaturan politik global, dimana jika dulu sovereignity of state, kedaulatan suatu bangsa adalah sebuah harga mati yang tidak bisa di gadaikan, kini, dengan arus globalisasi sedikit demi sedikit mengikis state sovereignity sehingga relasi intra-state dan jaringan transnasional dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. Jika dulu interdependen antar negara diartikan dengan hubungan internasional, saat ini bergeser menjadi istilah relasi global atau global relation.

Lantas apa hubungannya dengan opini publik? sebetulnya opini publik ini berhubungan dengan kepiawaian suatu negara untuk dapat berkiprah di jalur internasional, berpindahnya pola sistem politik global dari bipolar menjadi multipolar menuntut masing-masing negara untuk dapat memberikan andil positif di percaturan internasional. Meskipun pada kenyataannya dalam fenomena multipolar ini di dominasi oleh sistem unipolar yang di mainkan oleh Amerika Serikat.

Membangun opini publik tidaklah semudah permainan survey, tapi bagaimana opini publik ini terbentuk sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan tersendiri bagi suatu negara atau individu tanpa harus bersusah payah untuk berkonsentrasi dalam hard power. Sebut saja perang melawan jaringan Teroris Global, kebijakan-kebijakan yang di ambil USA telah berhasil membentuk opini publik global sedemikin rupa sehingga hampir semua negara mau tidak mau turut sertadalam agenda Perang Terorisme ini.

Begitu pula kemenangan Presiden SBY dalam pemilu terakhir lalu, banyak di dukung dengan jaringan-jaringan lembaga-lembaga pooling dan survey, sehingga sedikit banyak berhasil mempengaruhi opini publik. Meski demikian tentu saja membangun opini publik tidak semudah lembaga survey mempublikasikan hasil survey lapangannya, tapi lebih dari itu, opini publik di bangun atas dasar soft power yang senantiasa berjalan secara berkesinambungan, karena mustahil seseorang dapat membentuk opini publik yang sedemikian rupa tanpa kerja keras.

Tulisan ini adalah wacana Global Public Opinion yang di sampaikan dalam sebuah seminar internal study grup yang di hadiri oleh penulis beberapa waktu lalu, semoga bermanfaat.

5 comments:

Fi said...

opini publik juga masih dipengaruhi oleh faktor media massa disekitarnya.
terutama media televisi.

xitalho said...

Kalo menurut saya mbak.. media dan teknologi hanya alat mbak. Pencitraan diri baik negara,institusi maupun perorangan berawal dan berujung pada Uang... terutama di jaman yag serba materi seperti ini.. lazimnya disebut jual beli suara/dukungan.

Semoga nyambung komen saya hihihi...

xitalho said...

Kalo menurut saya mbak.. media dan teknologi hanya alat mbak. Pencitraan diri baik negara,institusi maupun perorangan berawal dan berujung pada Uang... terutama di jaman yag serba materi seperti ini.. lazimnya disebut jual beli suara/dukungan.

Semoga nyambung komen saya hihihi...

Fajar said...

opini publik disatu sisi bisa menjadi senjata andalan....namun disisi lain bisa menjadi bumerang...

Kamilia said...

@Fi: pasti itu
@Xitalho: memang uang adalah raja, sama halnya dengan pemilihan legislatif, tapi hal itu berlaku pada negara berkembang dengan GDP dibawah 1000 dollar, sehinggga fenomena politik uang itu menjadi hal yang biasa.
@Fajar: bumerangnya seperti apa ya, itu tergantung aktornya saja sepertinya

There was an error in this gadget
 

© 2009Milestones | by TNB