Friday, 5 June 2009

Seperti yang saya janjikan pada postingan saya yang sebelumnya, postingan kali ini saya mau sedikit share buku menarik tentang kajian Gender di Indonesia, sebuah riset yang dilakukan selama jangka waktu 30 tahun, yang di kupas sedemikian uniknya oleh Kathryn Robinson. Beliau adalah seorang profesor di Department of Anthropology, Research School of PAsific and Asian Studies di The Australian National University.

Februari 1998, awal buku ini di digambarkan peristiwa protes para perempuan di Bundaran Hotel Indonesia, di prakarsai oleh organisasi Suara Ibu Perduli pada masa mulai meredupnya kekuasaan Orde Baru pada waktu itu. Unjuk rasa yang dikenal dengan istilah Demo Susu ini menuntut pemerintah, terutama departemen kesehatan agar menindak lanjuti kasus susu formula yang tercemar bakteri Enterobacter Sakazakii.

Aksi unjuk rasa ini berhasil mencuri perhatian media massa baik nasional maupun internasional, karena keberanian para aktifis perempuan ini mencoba mendobrak besi-besi rezim orde baru, yang kemudian dari aksi ini memunculkan demo-demo lainnya, hingga pada klimaksnya peristiwa Trisakti dan peristiwa aksi ribuan mahasiwa yang menduduki gedung DPR/MPR menuntut mundurnya icon Orde Baru -Soeharto- untuk mengundurkan diri.

Meskipun telah banyak analisis yang mengupas peristiwa bersejarah ini, tapi hanya sedikit yang menulis tentang bagaimana peran aktif perempuan dalam pergerakan demokrasi, juga pada pergantian kebijakan gender politik setelah berakhirnya kekuasaan Soeharto. Pada era reformasi, hampir pada peringatan hari-hari penting baik itu International Women Day, Hari Kartini maupun Hari ibu selalu ditandai dengan demonstrasi massa para aktifis perempuan dengan berbagai tuntutannya.

Buku ini mencoba mengetengahkan bagaimana dinamika perjuangan perempuan yang berpindah dari waktu ke waktu dalam konteks tren politik dan kultur Indonesia. Jika pada pemilu terakhir, kita saksikan bagaimana kebijakan Mahkamah Konstitusi memberlakukan zipper system pada perolehan suara caleg, menarik perhatian sejumlah aktifis perempuan untuk mengajukan protes. Meskipun sajauh ini protes tersebut rasanya belum juga ada tanggapan secara serius dari lembaga tersebut.

Latar belakang penulis yang seorang antropolis, tidak heran jika dalam buku ini penulis memaparkan kajian antropologi gender, dimana perbedaan karakter kebudayaan di Indonesia menyuguhkan dua sisi yang berseberangan, yang mana di satu sisi sejumlah daerah dengan kulturnya memberikan banyak kesempatan untuk para perempuan, sementara disisi lain tidak jarang juga kultur budaya setempat yang memberikan banyak restriksi. Pada Bab ini penulis mengupas dengan sedemikian dalamnya, tokoh Kartini dan ide-ide emansipasinya yang memberikan motor munculnya pergerakan pendidikan untuk kaum perempuan pada masa itu. Termasuk menjadikan Kartini sebagai simbol nasional pergerakan perempuan. Baca sendiri ya terusannya..bukan resensi kalau saya ceritakan semuanya :)

Buku ini juga mengkritisi kebijakan ideologi domesticated feminity pada era rezim Orde Baru, dimana tugas-tugas perempuan diatur sedemikian rupa dalam undang-undang perkawinan. Sehingga tugas suami istri seolah-olah di kotak-kotak sehingga UU ini juga banyak mengundang kontroversi.

Pada pembahasan terakhir buku ini penulis mengutarakan bahwa agama Islam memberikan sentuhan penting dalam pergerakan gender di Indonesia, hal ini karena mayoritas penduduk Indonesia menganut ajaran Islam, sehingga wacana Islam tentang gender kemudian muncul, terutama wacana gender yang berkiblat dari negara-negara muslim di dunia.

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca sendiri..atau barangkali ada yang tertarik untuk menerjemahkannya..

Untuk yang ingin download PDF nya silahkan mengunjungi link skydrive saya disini. Semoga bermanfaat.

Postingan selanjutnya, saya mau mencoba share artikel parenting tentang tips cerdas membatasi anak anda menonton TV, atau istilahnya TV timing untuk anak, yang beberapa waktu lalu saya baca di situsnya parent center, jika sebelumnya saya pernah share tentang manfaat bermain bagi anak, rasanya penting juga kita mengetahui bagaimana mendisiplinkan anak agar tidak selalu menjadikan TV sebagai tempat main utamanya.


0 comments:

There was an error in this gadget
 

© 2009Milestones | by TNB